Rizal Fadilah Akui Gerakannya Dimanfaatkan Kelompok Lain

oleh -12 Dilihat

Jakarta – Polemik dugaan ijazah palsu Presiden Joko Widodo yang selama ini disuarakan oleh Roy Suryo Cs terus bergulir dan memicu berbagai reaksi. Terbaru, sejumlah pihak yang terlibat dalam pengusutan kasus ini, termasuk Roy Suryo, telah diperiksa oleh penyidik Polda Metro Jaya atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik.

Namun, di tengah sorotan terhadap kasus tersebut, salah satu inisiator gerakan, Rizal Fadilah, menyampaikan kekecewaannya terhadap dinamika yang berkembang. Ia mengaku gerakan yang awalnya fokus pada isu keaslian ijazah kini justru ditunggangi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk kepentingan politik tertentu.

“Banyak kelompok yang cuma numpang. Ada yang numpang tenar, numpang exist, bahkan ada yang menunggangi untuk kepentingan provokasi. Padahal mereka bukan bagian dari gerakan kita,” ujar Rizal dalam pernyataannya.

Menurutnya, “penumpang gelap” ini memanfaatkan isu yang sedang mencuat untuk menyerang pemerintah dan institusi seperti Polri. Ia menilai narasi publik telah bergeser menjadi seolah-olah gerakan ini adalah pertarungan antara Roy Suryo Cs atau Rizal Fadilah Cs melawan pemerintah.

“Padahal sejak awal concern kita adalah soal dugaan ijazah palsu Jokowi. Ini seharusnya tidak ada hubungannya langsung dengan pemerintah atau lembaga manapun,” tegasnya.

Tak hanya itu, Rizal juga mencurigai adanya keterlibatan lembaga pemerintah tertentu yang turut memanfaatkan situasi ini untuk menyerang institusi lainnya. Ia mencontohkan akun-akun buzzer seperti “Reformasi Polri” yang gencar mengangkat isu ijazah palsu, namun menurutnya justru memiliki indikasi sebagai alat propaganda dari lembaga yang tidak sejalan dengan Polri.

“Akun-akun seperti ini aktif mengangkat isu kita, tapi kalau ditelusuri, ada indikasi ini buatan lembaga pemerintah sendiri yang sedang konflik internal dan memanfaatkan momentum ini untuk provokasi,” ujarnya.

Rizal menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan popularitas gerakan yang dimotori bersama koleganya. Namun ia mengingatkan bahwa publik harus waspada terhadap akun-akun provokatif yang hanya ingin menciptakan kekacauan demi keuntungan kelompok tertentu.

“Kita berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi. Banyak akun yang tampak kritis, tapi sebenarnya tidak punya visi. Mereka hanya ingin memancing keributan agar bisa mengambil keuntungan dari kekacauan yang tercipta,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.