Bukan Militeristik, Indonesia Butuh Figur Pemimpin Demokratis Untuk Hadapi Kompleksitas Masalah Nasional

oleh -95 Dilihat

Medan – Mantan Presiden Mahasiswa IAIN Sumut periode 2012 – 2013, Ahmad Riduan Hasibuan menegaskan bahwa Indonesia sudah tepat dipimpin oleh figur pemimpin yang demokratis.

“Dalam situasi politik nasional saat ini sudah tepat, Indonesia dipimpin sosok yang demokratis, melayani bukan militeristik,” tegas Ahmad Riduan saat ceramah dalam Upgrading dan Raker Bersama Dewan Eksekutif Mahasiswa UIN SU dan Senat Mahasiswa UIN SU di Asrama Haji Medan, Sabtu (3/11/2018).

Lebih lanjut, Riduan menjelaskan ciri leadership yang diharapkan bangsa ini diantaranya pemimpin yang punya kemampuan untuk mendengar, jujur, punya semangat tinggi, merangkul, rendah hati dan berintegritas. Kata dia, ciri kepemimpinan itu penting untuk menggerakkan elemen bangsa menyelesaikan secara bersama-sama kompleksitas masalah sosial, politik, ekonomi Indonesia.

“Kita butuh kepemimpinan melayani, jujur dan berintegritas. Karena diharapkan bisa menggerakan elemen bangsa. Sekali lagi menggerakkan bukan memerintahkan. Kalau memerintahkan itu militeristik,” jelas dia.

Kata Riduan, gaya militeristik sekarang ini tidak cocok di pakai dalam kepemimpinan nasional sebab kntruksinya bisa tidak jalan kepada rakyat. Karena rakyat butuh sentuhan yang lembut. Bukan kepalan tangan atau telunjuk komando.

Mantan Bendahara Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam ini juga berpesan agar aktivis mahasiswa termasuk BEM dan SENAT untuk tidak berhenti memberikan kritik konstruktif bagi pemerintah. Negara sedang butuh kritik konstruktif aktivis mahasiswa dan meminta mahasiswa tidak diam.

“Mahasiswa termasuk BEM dan Senat harus memberikan kritik bagi pemerintah, tapi harus konstruktif, kalau asal kritik itu akumulasinya jadi nyinyir. Masak mahasiswa nyinyir,” sambung dia.

Sementara itu, Presiden Mahasiswa UIN SU Muhammad Azhari Marpaung menyampaikan bahwa agenda yang diinisiasi DEMA dan SENAT UIN Sumut kali ini adalah bagian mengefektifkan program kerja mereka dengan perencanaan matang dan menginput pakar dari berbagai ahli dan alumni Presma UIN agar mendapatkan gagasan brilian.

“Kami akan konsisten dalam garis perjuangan mahasiswa dan tidak terlibat politik praktis,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.